Keber-Ada-an Tuhan   Leave a comment


Akhir-akhir ini penulis agak terusik dengan seorang teman yang mempertanyakan keberadaan Tuhan. Apakah Tuhan itu memang ada? Kalau ada, bagaimanakah wujud Tuhan itu yang sebenarnya? Apakah Dia benar-benar berkuasa terhadap alam dan segala isinya ini?

Menurut penulis, pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang sangat rumit karena menyangkut kepada kepercayaan. Kepercayaan adalah sebuah dogma yang bagi pemeluknya tidak memerlukan pendefinisian dan pembuktian secara ilmiah. Namun pertanyaannya, apa yang mendasari rasa percaya dan yakin tersebut? Apa yang melatarbelakangi seseorang memeluk suatu agama dan mempercayai Tuhan? Hanya ikut-ikutan ataukah memang atas dasar pemikiran yang jelas dan mampu dipertanggungjawabkan?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akhirnya menciptakan seorang yang agnostik dan atheis. Kenapa? Karena bagi mereka, sesuatu itu baru dapat diterima jika mampu dijelaskan secara ilmiah.

Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya maka kita mendefinsikan kata-kata kunci dari penjabaran di atas

Tuhan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Tuhan dapat diartikan sebagai sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yg Mahakuasa, Mahaperkasa. Beranjak dari hal ini, Tuhan bisa bermakna sangat luas. Tidak hanya merujuk pada Sang Pencipta, namun juga merujuk pada apa yang kita yakini, kita sembah, dan kita puja.

Lebih jauh, secara umum Tuhan bisa didefinisikan ke dalam 3 jenis, antara lain:

a. Tuhan Personal.
Tuhan diwujudkan sebagai makhluk adi kuasa yang menciptakan alam serta segala isinya dimana ciptaanNya tersebut bergantung sepenuhnya kepadaNya. Tuhan personal ini dianut oleh agama-agama samawi, antara lain: Islam, Kristen, dan Yahudi. Hubungan antara Tuhan dengan ciptaanNya dilakukan melalui do’a.

b. Tuhan Semi Personal
Tuhan disimbolkan sebagai alam semesta yang seolah-olah dapat merasa dan memiliki sifat-sifat seperti ke-manusia-an. Hubungan Tuhan dengan manusia dilakukan melalui ritual keagamaan. Yang termasuk ke dalam kategori inilah antara lain: Hindu, Tao, Khonghucu, penganut-penganut kepercayaan, Buddha.

c. Tuhan Impersonal
Tuhan dipercaya sebagai sesuatu yang tidak dapat digambarkan, dipikirkan, dan dibayangkan dalam bentuk apapun. Tuhan bukan zat hidup yang dapat berpikir, berasa, berucap, mendengar atau mengindera. Tuhan adalah sebagai tujuan tertinggi (kesempurnaan). Yang termasuk ke dalam kategori ini adalah agama Budha.

Kepercayaan
Percaya didefinisikan sebagai pengakuan atau keyakinan bahwa sesuatu memang benar atau nyata. Kepercayaan lebih diasosiakan kepada agama. Kenapa? Karena kepercayaan bersifat mutlak benar dan nyata, dan hanya dogma agama lah yang menyatakan adanya kebenaran mutlak.

Agnostik
Agnostik didefinisikan sebagai orang yang berpandangan bahwa kebenaran tertinggi tidak dapat diketahui dan mungkin tidak akan dapat diketahui. Mereka yang agnostik berada di garis abu-abu mengenai keberadaan Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang masih mencari keberadaan Tuhan dan belum mampu untuk memutuskan bahwa Tuhan itu benar-benar ada atau tidak.

Atheis
Atheis didefinisikan sebagai orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan. Berbeda dengan agnostik, mereka sudah memutuskan bahwa Tuhan itu tidak ada. Atheis ini adalah sosok yang menarik. Di satu sisi mereka tidak percaya dengan Tuhan sedangkan di sisi lain, sebenarnya mereka adalah orang yang mempunyai agama, yaitu agama atheis. Walaupun mereka mungkin menolak atheis dikatakan sebagai agama namun mereka tidak dapat membantah bahwa atheis itu adalah sebuah kepercayaan, yaitu kepercayaan akan tidak adanya Tuhan. Bukankah ada juga yang mengasosiasikan komunis dengan agama?

Ilmiah
Ilmiah didefinisikan sebagai sesuatu yang bersifat keilmuan dan memenuhi kaidah ilmu pengetahuan. Ilmiah bersifat temporer dan kekinian. Bersifat temporer karena sesuatu yang ilmiah itu akan berubah seiring dengan waktu. Jika ada yang membantahnya dan menciptakan teori baru yang mampu dipertanggungjawabkan, maka sesuatu yang saat itu dianggap ilmiah akan menjadi tidak ilmiah lagi. Bersifat kekinian karena sesuatu yang ilmiah hanya berlaku untuk saat ini, dan belum tentu berlaku untuk seterusnya.

Setelah mendefinisikan kata kunci dalam pembahasan di atas, maka kita akan berlanjut ke tahap berikutnya. Apakah pokok permasalahan yang melatarbelakangi atheis tidak percaya Tuhan dan agnostik mempertanyakan Tuhan? Kata kuncinya adalah Ilmiah. Menurut mereka Tuhan itu tidak ilmiah karena tidak bisa dibuktikan secara keilmuwan sehingga tidak bisa diterima keberadaannya.

Benarkah demikian? Benarkah Tuhan itu tidak ada karena tidak bisa dibuktikan secara ilmiah?

Untuk itu, perlu pembahasan yang lebih mendalam dan lebih terarah. Oleh karena yang dipertanyakan adalah Tuhan, maka fokus pembahasan kita juga adalah Tuhan secara umum, bukan Tuhan menurut agama Islam, Kristen, Konghuchu, Hindu, Budha, Yahudi, dll.

Tuhan adalah sebuah kepercayaan. Ibarat sebuah makanan, maka Tuhan itu adalah rasa. Rasa tidak dapat dijelaskan bentuknya, namun bisa dirasakan keberadaannya. Rasa juga berbeda-beda tergantung dengan selera. Buat seorang penyuka kue tart, maka buat mereka kuat tart itu enak. Silahkan tanya ke mereka, bagaimana rasa yang enak itu? Mereka tidak akan bisa menjawabnya.

Namun ada cara membuktikan keberadaan Tuhan. Yaitu dengan melakukan pengujian terhadap konsepnya berupa konsep agama yang tertera dalam setiap kitab suci dan ajaran agama yang diberikan oleh pemimpin agama. Dengan asumsi bahwa Tuhan sebagai pencipta, Tuhan sebagai alam semesta, dan Tuhan sebagai tujuan tertinggi (kesempurnaan), maka tidak ada tempat kesalahan bagi Tuhan. Apa yang tercantum dalam kitab suci dan ajaran agama haruslah mutlak benar dan tidak lekang oleh jaman. Dengan cara ini kita dapat membuktikan dua hal sekaligus. Yang pertama, membuktikan keberadaan Tuhan, dan yang kedua, jika benar terbukti Tuhan itu ada, maka akan berlanjut kepada Tuhan menurut ajaran manakah yang benar?

Oleh karena para atheis dan agnostik mempertanyakan keberadaan Tuhan dengan berpegang pada metode ilmiah, maka ada baiknya untuk memilih metode ilmiah dalam pembuktiannya. Selain itu metode ilmiah adalah metode yang bisa diterima oleh hampir semua orang. Dengan melakukan pembuktian menggunakan metode tersebut, maka kebenaran akan dapat diungkapkan dan dapat diterima oleh semua kalangan. Pengujian pasti akan membutuhkan waktu yang sangat lama karena pengujian harus mendetail dan dilakukan secara keseluruhan. Maksud dari keseluruhan ini mencakup keseluruhan isi kitab dan keseluruhan isi ajaran agama yang ada di seluruh dunia. Akan sangat beruntung jika pertama kali melakukan pengujian terhadap ajaran agama tertentu telah menemukan kesalahan sehingga sudah dapat dipastikan bahwa agama tersebut salah (berawal dari asumsi Tuhan tidak pernah salah). Namun jika tidak, maka pengujian akan semakin rumit dan melelahkan. Bahkan bisa jadi tidak akan menemukan titik terang dari apa yang dicari.

Oleh karena sulitnya mencari kebenaran tentang keberadaan Tuhan secara ilmiah, maka kebanyakan orang mengambil kesimpulan bahwa Tuhan itu tidak ada karena tidak mampu diuji secara ilmiah. Namun pertanyaannya, apakah memang tidak mampu ataukah belum mampu?

Kita sendiri sudah tau bahwa metode ilmiah bersifat temporer dan kekinian. Hal ini ditimbulkan oleh keterbatasan manusia dalam segala hal. Apa yang mampu dilakukan manusia saat ini, belum tentu mampu dilakukan oleh manusia yang hidup pada tahun-tahun sebelumnya. Apa yang mampu dilakukan oleh satu manusia belum tentu mampu dilakukan oleh manusia lain. Oleh karena adanya keterbatasan itulah, maka ada yang disebut dengan kemajuan.

Jadi, jika ada yang menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada karena tidak mampu dibuktikan secara ilmiah, maka itu adalah kesimpulan yang terburu-buru. Terburu-buru karena sampai saat ini tidak ada satu manusia pun yang pernah melakukan pengujian terhadap isi keseluruhan dari kitab suci yang ada di muka bumi. Yang ada hanyalah penelitian terhadap sebagian isi kitab suci tertentu yang dianggap mewakili keseluruhan kitab suci yang ada di seluruh dunia. Ini tidak bisa diterima karena tidak bisa men-genaralisir seluruh agama hanya dengan mengambil sample salah satu agama. Oleh karena itulah, orang yang menolak keberadaan Tuhan karena belum mampu dibuktikan secara ilmiah adalah mereka yang menolak keterbatasan dan mereka yang malas untuk berpikir. Mereka hanya menyimpulkan dari pendapat orang lain namun malas untuk menguji sendiri.

Dari uraian di atas, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa:

  1. Manusia ada dengan segala keterbatasan. Namun manusia juga ada untuk berpikir. Berpikir dalam keterbatasan.
  2. Tuhan bisa dibuktikan dengan melakukan pengujian terhadap konsep-Nya yang tertera dalam kitab suci dan ajaran-ajaran agama dimana konsep tersebut harus benar.
  3. Metode ilmiah sampai saat ini belum mampu membuktikan keberadaan Tuhan namun belum tentu juga tidak mampu karena adanya keterbatasan manusia. Oleh karena itu, maka adalah tidak etis dan sangat terburu-buru jika menyimpulkan bahwa Tuhan itu tidak ada
  4. Terlepas dari apakah Tuhan itu ada atau tidak, harus diakui bahwa agama telah membuat manusia mempunyai tujuan, baik itu tujuan hidup maupun setelah kematian.

 

Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: